BANJARBARU – Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) Banjarbaru menggelar penataran pelatih basket lisensi C. Berlangsung selama tiga hari di GOR DCA. Sebanyak 51 peserta mengikuti kegiatan ini. Bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) pelatih sekaligus membangkitkan gairah olahraga bola basket di Kalsel.
Selaku narasumber penataran, Fandi Raja Siregar, mengatakan pelatihan ini tidak hanya berfokus pada pemberian lisensi, tetapi juga membentuk pelatih yang memiliki kompetensi dan keseriusan dalam mengembangkan bola basket di daerah.
“Penataran ini kami harapkan dapat membangkitkan kembali gairah basket di Kalsel, khususnya di Banjarbaru. Dari 51 peserta yang mengikuti kegiatan ini terlihat antusiasme yang tinggi,” papar Fandi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ada yang mengikuti untuk memperoleh lisensi, tetapi ada juga yang benar-benar ingin menambah ilmu agar basket di Banjarbaru bisa lebih maju,” sambungnya.
Menurut Fandi, penilaian terhadap peserta tidak hanya hanya dari hasil tes, tetapi juga dari sikap selama mengikuti pelatihan. Keseriusan, keaktifan dan ketekunan menjadi indikator penting dalam menentukan kualitas calon pelatih.
Kemampuan menyusun program latihan merupakan faktor penting dalam dunia kepelatihan. Menurutnya, proses latihan dan rancangan secata sistematis sangat mempengaruhi kualitas permainan dan pertandingan.
“Pertandingan dari latihan. Kalau latihan tidak maksimal, maka hasil di pertandingan juga akan seadanya,” katanya.
Selama tiga hari pelaksanaan, peserta mengikuti berbagai tahapan penilaian, mulai dari pre-test, praktik kepelatihan, hingga post-test sebagai ujian akhir. Hasil kelulusan dijadwalkan diumumkan sekitar satu minggu setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai.
Pelatih Lisensi C Jenjang Dasar
Sementara itu, Ketua Perbasi Banjarbaru, Ahmad Maulana, menjelaskan bahwa lisensi C merupakan jenjang dasar bagi seseorang yang ingin menjadi pelatih basket.
“Penilaian kelulusan meliputi kehadiran, tes awal, dan tes akhir. Selama tiga hari peserta mendapatkan materi dari narasumber yang berkaitan dengan bola basket, termasuk dari pelatih nasional yang kami hadirkan,” jelasnya.
Ahmad menyebut, selain penguasaan materi, peserta juga dituntut memiliki disiplin dan memahami konsep kepelatihan yang benar.
Menurutnya, seorang pelatih harus mampu membina atlet sebagai manusia, bukan sekadar mengejar hasil pertandingan.
“Pelatih harus memiliki ilmu pengetahuan yang memadai. Mereka melatih manusia, bukan robot. Karena itu, karakter, disiplin, dan kemampuan membina atlet menjadi hal yang sangat penting,” ujarnya.
“Kami mengharapkan kualitas SDM pelatih terus meningkat sehingga mampu melahirkan pemain-pemain berprestasi dan mendorong perkembangan olahraga basket di Banjarbaru maupun Kalsel,” tutup Maulana.(ZY)










Komentar